Bagian1

Pagi itu terasa indah dimana udara sejuk diperbatasan desa yang masih asri diselimuti kabut tipis dan embun yang masih membekas sisa hujan deras tadi malam, dibatas timur tanah kontrak karet yang irigasi dan lahanya sudah berubah oleh kejamnya zaman, tampak geliat rerumputan yang mulai hidup kembali menghijau yang telah hampir lumpuh oleh sisa kemarau, seiring hilir mudik burung pipit yang terbang kesana kemari serta bernyanyi seolah sama menyambut pagi dengan gembira, namun ada sedikit rasa dingin menusuk melalui sela sela jari yang sedikit terbuka.
Seiring berjalannya waktu cahaya kuning keemasan yang membawa aura kehangatan, keindahan dan penghidupan itu mulai menyeruak kabut, dan terus meninggalkan butir butir gemerlap pada ujung daun dan rerumputan yang menghias aura warna yang mulai menghijau kembali, keadaan bugar dipagi hari.
Cahaya itu terus menyeruak lembut tetapi tegas hanya tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan, kelembutanya mampu memberikan rasa nyaman, ada silulet bayang banyang ke arah barat dari  setiap benda yang menghalangi tertampaknya sang surya.
Bagi sebagian itu adalah cahaya harapan dari setiap insan, yang hari harinya masih dipenuhi oleh buaian buaian polosnya kehidupan, harapan yang penuh dan tidak ada keputus asaan. Keindahan dan kehangatan ini selalu dapat dirasakan oleh orang orang yang bebas dari segala ikatan, setiap mentari baru adalah harapan yang baru. Sebelum cahaya itu tampak di jalanan ada rasa sedikit senyap selain bapak bapak yang mulai kembali dari mesjid, kesibukan akan tampak di dapur dapur rumah.
Tepat sejam sebelumnya didalam keremangan ada seorang anak laki laki yang badannya masih amat kecil, tidak lebih dari dari lima setengah tahun usianya. dia berseragam dan dengan tas punggung berjalan menenteng sebuah keranjang plastik yang warnanya hampir pudar, tampak keranjang tersebut hampir sepertiga dari ukuran badannya, dia berjalan sambil sesekali mengayunkan keranjangnya dibelakang seorang wanita yang juga sama menenteng kerangjang dan menahan sebuah nyiru kecil dikepalanya, ketika melewati dapur rumah maka sesekali berhenti dan berbicara dalam lagam yang khas, ketika ada sekerumunan orang juga melakukan hal sama sesuatu yang menjadi rutinitas harian, sesekali menurunkan nyirunya sesekali meminta keranjang dari anak kecil yang ketika semakin jauh berjalan semakin ringan pula juinjingannya dan semakin bahagia untuk bisa terus menawarkan pada orang orang yang bertemu untuk segera membeli dan menghabiskan isinya, terdapat batas batas peluh dalam dahi ibu dan anaknya, “syukurlah hari ini tidak turun hujan!! celoteh anaknya”, ketika tentengan sudah terasa ringan maka sesekali dia melihat isi kerangjangnya, jika sisanya tinggal satu atau dua maka dia akan berhenti untuk menentengnya dan mengambil isinya kemudian membungkus dan meletakan pada tas punggungnya serta menyerahkan keranjangnya pada ibunya.
Pada batas wilayah tertentu di persimpangan dalam perjalanan rutin hariannya dia pamit dan mencium tangan ibunya kemudian menunggu teman teman yang lainya untuk terus menggelorakan cita – citanya, ya dia anak kecil yang belum genap usianya yang sudah bersekolah di sekolah dasar di kampungnya. Terkadang sebagian orang yang mengenalinya sesekali memberikan bekal tambahan berupa makanan atau uang saku yang baginya itu anugerah terindah yang tidak dapat dirasakan setiap harinya.
Semua orang di kampunya faham sehingga sesekali bagai ada komando tidak tertulis untuk meberikan uang saku secara bergiliran.
Sepasang mata anak itu selalu bersinar-sinar penuh seri kehidupan ketika hal itu terjadi,
…..bersambung….