Mahabbah Terhadap Ilmu

Setiap orang mempunyai permasalahan dalam hidupnya. Termasuk masalah saat di bangku pendidikan. Formal atau tidak formal. Permasalahan dalam pencarian ilmu memang cukup mengganggu. Ini membuat ilmu yang kita cari atau pelajari menjadi susah untuk dipahami.

Tokoh muslim yang terkemuka dalam filsafat dan tasawuf, Imam Al-Ghazali mempunyai resep bagi para pencari ilmu. Suatu pedoman supaya para pencari ilmu diberi kelancaran dan petunjuk Allah swt. Ada sepuluh pedoman yang ia tawarkan.

Pertama, pencari ilmu harus menyucikan jiwa dari kejelekan akhlak. Akhlak yang jelek akan selalu menghambat proses pencarian ilmu. Jadi, sifat-sifat yang kotor lebih baik dihindari karena dapat menghambat masuknya ilmu.

Kedua, mengurangi keterikatan dengan kesibukan dunia. Ikatan-ikatan dunia akan memalingkan seseorang dari ilmu yang sedang dicarinya. Akhirnya pencari ilmu akan disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan dunia daripada mencari ilmu.

Seperti yang dikatakan Al-Ghazali, jika pikiran terpecah maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu mengerahkan kepadanya seluruh jiwamu”.

Ketiga, tidak bersikap sombong pada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Para pencari ilmu bahkan seharusnya menyerahkan segala urusannya kepada gurunya dan mematuhi segala nasehatnya. Ibaratnya seperti orang yang sakit dan bodoh mematuhi segala nasehat dokter yang mahir dan menyayanginya.

Sikap sombong hanya akan menjauhkan pencari ilmu dari manfaat ilmu yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu menjadi kewajiban seorang murid untuk bersikap tawadhu kepada gurunya, siapa pun dia, berapap pun umurnya, dan apa pun statusnya.

Keempat, para pencari ilmu hendaknya benar-benar dalam menuntut ilmunya dan tidak melibatkan diri dalam perselisihan di antara manusia lain. Perselisihan akan memalingkan pencari ilmu dari ilmu yang sedang ditekuninya.

Kelima, penuntut ilmu lebih baik tidak meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji atau salah satu jenis ilmu lainnya, kecuali telah dipertimbangkan matang-matang. Setelah mempelajari semua ilmu tersebut sebaiknya pencari ilmu mendalami semuanya, karena antara satu ilmu dengan ilmu lainnya akan saling mendukung.

Keenam, tidak menekuni semua ilmu sekaligus, tetapi melalui strategi yaitu mengutamakan ilmu yang paling penting terlebih dulu. Kalau kita diberi umur yang tidak begitu panjang tetapi ilmu yang pokok telah kita miliki, ilmu yang lainnya hanya sekadar pelengkap saja.

Ketujuh, lebih baik tidak memilih cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya. Pada hakikatnya ilmu saling berkaitan. Sebagian ilmu menjadi jalan bagi ilmu yang lainnya. Hendaknya tujuan dari ilmu yang dicari adalah peningkatan kepada apa yang ada diatasnya.

Kedelapan, mengetahui faktor penyebab yang dengan itu bisa mengetahui yang paling mulia. Ilmu yang mulia harus menjadi tujuan yang utama. Mencari faktor-faktor yang mengantarkan ke arah itu menjadi suatu keharusan.

Kesembilan, pencari ilmu harus menyadari dua hal, yaitu tujuan di dunia hanya untuk menghiasi diri dan mempercantik batinnya dengan keutamaan. Sementara tujuan akhiratnya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kesepuluh, pencari ilmu harus mengetahui antara ilmu yang dicarinya dengan tujuan hidupnya. Kalau sudah mengetahui tujuan hidupnya maka ilmu yang dicarinya tidak akan sia-sia karena sudah mengetahui untuk apa ilmu yang dicarinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s